Added On: Friday, March 28, 2008

Who are ReCapital Advisors

Recapital Advisors: Beli, Poles, Jual ...
Kamis, 12 Juli 2007
Oleh : Eva Martha Rahayu

Tak mau sekadar jadi mediator dalam mengakuisisi perusahaan, Recapital Advisors selalu menciptakan value. Sejumlah investor global dan pemilik perusahaan berhasil diyakinkannya untuk memuluskan proses takeover.

Recapital Advisors (Recapital) termasuk private equity firm yang agresif di Indonesia. Aksinya mengakuisisi sejumlah perusahaan membuat decak kagum banyak orang. Selain size perusahaannya besar, nilai akuisisinya pun cukup wah. Akuisisi Pizza Hut, Sumalindo, Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), Hotel Grand Kemang dan Adityawarman Building termasuk contoh takeover yang sukses. Toh, ada pula beberapa kasus yang membuat miris lantaran nilai kerugiannya mencapai miliaran. Semisal gagal melakukan takeover Dipasena, sehingga harus melego BTPN yang telah susah payah dipolesnya menjadi lebih cantik.

Adalah dua orang sohib – Sandiaga Salahuddin Uno dan Rosan Perkasa Roeslani – yang membesut perusahaan ini dengan komposisi saham 50:50. Awalnya Recapital didirikan sebagai butik financial advisory pada awal 1997. Krisis moneter menjadi blessing indisguise lantaran banyak perusahaan yang butuh merestrukturisasi bisnis dan keuangannya. Di sinilah peran jasa penasihat keuangan diperlukan. Dalam perjalanannya, Recapital berkembang membeli aset dan mengelolanya, masuk ke pasar modal baik lewat Bursa Efek Jakarta maupun Bursa Efek Surabaya, dan industri multifinance. Sampai akhirnya Recapital berkembang menjadi private equity firm yang ditekuni sejak 3-4 tahun terakhir. Boleh dibilang Recapital menawarkan one stop service jasa keuangan, mulai dari konsultasi, pendanaan, hingga pengelolaan aset.

Bukan perkara mudah untuk meyakinkan calon investor. Pihaknya harus door-to-door mengetuk hati calon penyandang dana agar tertarik. gYang kami jual bukan proposal proyek yang akan kami garap terus minta dukungan dana. Melainkan, pengalaman kerja firm kami dan calon penyandang dana yang kami bidik mengetahui siapa kami,h papar Rosan P. Roeslani, Presdir Recapital. Untuk itu dibutuhkan waktu tiga, 6 sampai 9 bulan buat meyakinkan para pemilik dana agar mau bekerja sama dengan Recapital. Lama-tidaknya proses itu tergantung pada tingkat kenyamanan si pemilik dana. gKalau di tahap awal meyakinkan pemilik dana, jujur saja yang kami jual adalah track record pribadi saya sembari membangun image Recapital. Kalau sekarang sih, tentu saja track record Recapital sendiri,h ungkapnya.

Menurut Rosan, sebenarnya yang dijual Recapital tidak hanya perusahaan yang potensial untuk diakuisisi, tetapi juga citra Indonesia. Pihaknya mesti meyakinkan para pemilik dana mengapa mereka harus berinvestasi di Indonesia. Sebab bisa saja calon investor justru minta dicarikan perusahaan dari luar negeri yang siap diakuisisi. Maklumlah, perusahaan yang ditawarkan Recapital tidak sebatas di Tanah Air, tapi juga di mancanegara yang lebih kompetitif. Alhasil, dibutuhkan waktu lebih lama lagi prosesnya, karena tidak cukup hanya bertemu dua-tiga kali.

Siapa saja investor di balik Recapital? Rosan mengatakan, mayoritas penyandang dana Recapital berasal dari Amerika Serikat. Ada yang individual billionaire dan kelompok berupa lembaga keuangan atau yayasan berduit. Para investor ini memiliki aturan sangat ketat agar terhindar dari aktivitas money laundring. gKami (Recapital) punya tim risk management dan compliance untuk menjaga QCC yang mendukung penjagaan citra Recapital,h ujar Rosan sembari menjelaskan bahwa penyandang dana Recapital meliputi lima besar perusahaan keuangan dunia yang sangat kencang pengawasan aliran dananya. gSekali saja terjadi pencemaran, hapuslah reputasi kami,h tandasnya.

Waktu yang dibutuhkan mulai dari meyakinkan investor hingga mau mengucurkan dananya cukup bervariasi. Ada yang dalam hitungan bulan (2-9 bulan), tapi ada pula yang tahunan (1-2 tahun). Jangka waktu ini juga dipengaruhi tingkat pemahaman sektor industri yang akan ditekuni, serta track record manajemen portofolio pihak yang akan mengelola dana mereka.

Untuk berburu perusahaan yang bakal diakuisisi, Recapital telah menyiapkan tim analisis dan riset khusus yang beranggota empat orang. Tim inilah yang melakukan survei dan proses due diligence, serta menyatakan apakah perusahaan itu layak atau tidak untuk diakuisisi.

Recapital tidak menutup diri untuk jenis perusahaan tertentu saja yang bakal dibidik. Jika sebelumnya fokus pada underperformance, undervalue dan under-utilized, belakangan juga merambah perusahaan yang sudah bagus. gSekarang kami melirik perusahaan yang sudah jalan baik agar lebih terukur kalkulasi risiko bisnisnya dan future value economic-nya. Apakah masih bisa ditingkatkan lagi atau tidak? Dan cara pandangnya bukan hanya dalam lingkup bisnis di Indonesia, tapi juga global,h Rosan memaparkan.

Soal tahapan akuisisi dari awal hingga deal, Rosan menyebutkan, mula-mula dilakukan proses due diligence yang memakan waktu paling cepat sekitar tiga bulan. Uji tuntas itu meliputi aspek keuangan, legalitas, plus operasional perusahaan yang bersangkutan. Tahapan ini menyedot waktu paling lama dan biayanya juga besar. Biasanya Recapital memakai jasa kantor audit terbesar dan ternama di dunia. Konsultan legal digunakan dari dalam atau luar negeri yang reputable. Dari proses ini diperoleh gambaran komprehensif tentang perusahaan yang hendak diambil alih.

Setelah due diligence beres, tahap berikutnya negosiasi soal certain condition-nya, baik dengan pihak penyandang dana maupun pemilik perusahaan yang akan diambil alih atau diinjeksikan dana. Certain condition term yang diajukan itu banyak dan penyebab kegagalannya pun seabrek. Salah satu penyebab kegagalan itu bisa pada saat pembayaran karena muncul masalah tiba-tiba. Misalnya, dana yang dibayarkan di awal 80% dari total dana yang ada, sementara yang 20%-nya masih ditahan, karena akan diberikan sesuai dengan progresnya dalam waktu beberapa bulan kemudian. Bila seluruhnya beres, resmilah Recapital sebagai pemilik baru perusahaan hasil akuisisi itu.

Tahap ketiga, secara bersamaan Recapital dan investor menyiapkan tim yang akan mengelola perusahaan yang telah diakuisisi.

Rosan menegaskan bahwa Recapital bukan perantara belaka. Sebab ketika mengambil alih sebuah perusahaan, pihaknya harus creating value sebagai wujud pertanggungjawaban kepada pemilik dana. Itulah sebabnya mereka harus menyediakan waktu, pikiran, dan tenaga untuk mengawasi dan mengelola perusahaan yang diambil alih itu supaya nilainya bertambah.

Kendati demikian, masuknya Recapital ke perusahaan yang diambil alih tidak selalu diikuti perombakan total tim manajemen yang telah eksis. Perombakan dilakukan andaikan hasil evaluasi dan analisis menemukan jajaran direksi sebelumnya tidak perform alias tidak mampu create value. gNamun, Recapital pasti menaruh orangnya di sana di bagian keuangan,h kata Rosan. Apalagi Recapital memosisikan diri bukan investor pasif, sehingga selalu terlibat dalam pengelolaan perusahaan. Untuk mendukungnya, Recapital mencari tim profesional yang mampu menciptakan value perusahaan itu kelak.

Bagi Recapital, keterlibatan pihaknya dalam pengelolaan perusahaan sudah menjadi persyaratan baku yang tidak bisa ditawar lagi. gKami selalu mengajukan persyaratan tersebut. Selain itu, jumlah kepemilikan saham atas perusahaan itu harus mayoritas atau lebih dari 60%-70%,h Rosan menjelaskan. Mengapa? Pasalnya, Recapital merasa bertanggung jawab kepada pemegang saham yang lain dan para penyandang dana. Lagi pula dana yang diinvestasikan itu nilainya tidak kecil.

Rosan mengaku rata-rata besaran dana yang diinvestasikan minimum US$ 20 juta dan yang terbesar mencapai US$ 100 juta-an. gJumlah itu hanya dari pihak Recapital. Tapi, bisa juga kami bergabung dengan grup lain, atau yang biasa disebut Club Bill dengan nilai ratusan juta US$. Contohnya jika total nilai investasi yang dibutuhkan US$ 300 juta, yang dikucurkan dari kantong Recapital US$ 100-150 juta,h Rosan menguraikan.

Untuk besaran fee, Rosan ogah buka kartu. gAduh, kami tidak bisa menceritakan berapa besar keuntungan yang kami peroleh,h kilahnya. Toh, ia tidak menampik besarannya cukup lumayan untuk jadi kaya. Ini sesuai dengan kerja keras baik tenaga maupun waktu yang dicurahkan. Fee bisnis ini disebut Rosan dengan manajemen fee dalam jangka waktu tertentu, tergantung pada si pemilik dana, apakah akan melepasnya kembali atau tidak. Boleh dibilang, dengan proses akuisisi itu Recapital merupakan representatif dari pemilik dana, karena pihaknya juga diberi kepemilikan saham atas perusahaan yang bersangkutan.

Sementara itu, dilihat dari sukses-tidaknya aksi takeover Recapital, ada sejumlah perusahaan yang sukses diambil alih lalu dikelola lebih baik lagi, tapi ada pula yang gagal sebelum berkembang. Semisal Pizza Hut yang diambil alih 80% sahamnya dua tahun lalu, kini perkembangannya pesat. Simak saja jumlah cabang dari 82 menjadi 134 gerai, dan pangsa pasar berangsur membaik seperti semula. gFokus pembenahan kami di pemasaran, karena Pizza Hut sempat tergerus persaingan bisnis fast-food, khususnya pendatang baru. Kami juga menyempurnakan lagi soal citra, atmosfer, menu-menu dan displai gerai agar lebih atraktif,h Rosan menjabarkan. Hasilnya? Menurut Rosan, kini makin banyak calon investor yang tertarik untuk meminang Pizza Hut. Rata-rata time horizon yang ditargetkan Recapital selama 5-7 tahun sejak deal dan sign MOU akuisisi. Kalau dipukul rata return yang diharapkan Recapital dalam pengambilalihan perusahaan berkisar 30%-40%.

Kasus pembelian saham PT Sumalindo Lestari Jaya Tbk. dari PT Astra International Tbk. juga menuai keberhasilan. Kala itu kondisi keuangan Sumalindo sedang negatif. Setelah beberapa tahun direstrukturisasi, baru positif, karena pinjamannya ditukar saham (debt to equity swap) dan dilakukan rights issue. Setelah gmemolesh Sumalindo, tahun lalu Recapital melepasnya. Alasannya, sebagai private equity firm harus disiplin, ada jangka waktu dipatok akan masuk berapa lama, lima atau 10 tahun. Sedari awal telah ditargetkan kapan akan exit dan berapa nilai return-nya. Sekarang Recapital sudah keluar karena mereka sudah untung. gLihat saja harga saham Sumalindo yang naik sekitar 10 kali lipat sejak Recapital masuk tahun 2002 hingga sekarang,h ujar sumber SWA yang merahasiakan identitasnya. Kunci sukses kemajuan Sumalindo, seperti yang dijalankan Grup Hasko di sana, terletak pada dua faktor: value added dan perbaikan. gPerbaikan ada dua, operasional dan struktur keuangannya,h tambah sumber tadi.

Sebaliknya kasus Dipasena menguak kegagalan aksi Recapital sebagai corporate raider. Per 1 Maret 2007 PT Perusahaan Pengelola Aset menyatakan Recapital gagal sebagai pemilik Dipasena berdasarkan tender yang pertama. Pemicunya, di tengah jalan Recapital tidak mampu memenuhi kewajibannya untuk mengeluarkan dana Rp 745 miliar. Mereka tidak mengira, kegagalan menguasai Dipasena membuat Recapital kelimpungan. Wajar saja, karena selain harus mengembalikan duit Rp 745 miliar, masih ditambah bunga buat kreditornya yang bakal jatuh tempo Mei 2008. Jadi, total nilainya membengkak hingga kurang-lebih Rp 894 miliar.

Ihwal ceritanya begini. Pada September 2005 Recapital memenangi tender pertama Dipasena senilai Rp 1,5 triliun untuk kepemilikan 75% saham; sedangkan 25% sisanya tetap dimiliki pemerintah. Akan tetapi, sampai batas waktu yang ditentukan rupanya Recapital tidak memiliki cukup dana untuk membawa pulang Dipasena. Dan kini, tender kedua dimenangi oleh konsorsium Neptune dengan nilai Rp 688,12 miliar untuk kepemilikan saham Dipasena sebesar 100%.

Ke depan, Rosan belum bisa memastikan bisnis apa saja yang diincarnya. gNanti sajalah. Saat ini kami sedang melihat potensi-potensi di daerah dan menganalisisnya,h ucapnya sembari menekankan bahwa kunci sukses bisnisnya karena ditopang oleh tim yang solid, efisien, jejaring luas, jago lobi, serta jam terbang yang tinggi di industri keuangan.


Reportase: Tutut Handayani, Herning Banirestu, Abraham Susanto.

Labels:

0 Comments:

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home